iqbal perdana

Aktor Dadakan

Saya masuk ke halaman facebook, ingin menghubungi teman. Teman yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Selandia Baru. Beliau akan pulang ke Aceh, direncanakan April mendatang.

Ia memamerkan keadaannya saat ini dan berhasil membuat saya iri.

Tapi bukan dia yang ingin saya ceritakan saat ini.

Masih di halaman facebook, muncul notifikasi kenangan, 2012 silam. Saya senyum-senyum sendiri.

***

Begini, kenyataan sering kali bersebrangan dengan harapan.

Cerita ini berlangsung pada 2012 silam, sudah lama memang. Namun karena hal ini menarik dan saya mengalaminya langsung, maka setiap lekuk kejadiannya saya masih ingat betul.

Saat itu, saya menjadi aktor.

Apakah saya mengharapkannya? Duh, terpikir pun tidak.

Sebab saat itu saya sedang asyik menggeluti dunia jurnalistik, pewarta kampus.

Memang, setelah beberapa bulan menjadi pewarta kampus, jaringan pertemanan saya meluas. Saya punya banyak kenalan dengan latar ketertarikan yang beragam.

Diantaranya pecinta alam, pemanjat dinding, penari, pemusik, pelukis, penulis, pebisnis, dan penipu.

Saya menjalin hubungan baik dengan mereka. Sampai saat ini, saya merawat hubungan itu.

Nah, ada satu pemuda, seorang pemimpi ulung, penulis yang jenius, pemikir kritis. Saat ini ia sudah menjadi pemusik nasional, vokalis Apache 13. Saya tidak heran, memang pantas.

Namanya Nazar Shah Alam, saya memanggilnya Bang, paling panjang Banggggg…

Potongannya tak berbeda jauh dengan saya, cungkring. Kadang brewokan, kadang tidak. Kadang kumisan, kadang tidak.

Saya tidak ingat kapan kami pertama kali berkenalan, namun pasti rentang 2010-2011. Saat itu saya sangat tertarik untuk mendalami ilmu menulis, saya bergabung dengan UKM Pers DETaK Unsyiah.

Mengenal banyak penulis-penulis muda.

Diantaranya Nazar. Ia kerap kali menulis fiksi. Mendayu-dayu, mengalun-alun. Pasti banyak perempuan yang klepek-klepek kalau sedang membaca puisinya atau mendengar ia membaca puisi.

Suatu waktu, pada pertengahan 2012. Ia menghubungi saya. Intinya saya ditawarkan pekerjaan.

Sampai di warung kopi. Ia duduk bersama beberapa muda-mudi, beberapa saya kenal.

Saat itulah saya mengetahui kalau pekerjaan yang dimaksud adalah menjadi aktor, antagonis, licik, busuk hati. Saya timang-timang, saya pikir-pikir, terka-terka. Lama. Sekitar 3 menit. Baru saya ia-kan.

Begini, bukankah saya harus menghafal naskah? Lalu menyelaraskannya dengan mimik. Belum lagi vokal harus bulat. Suara harus keras, pas. Gestur tubuh harus sesuai dengan sikon.

Jujur saja, saya sulit menghafal.

Dimaafkan. Saya diizinkan untuk melakukan improvisasi. Tapi jangan terlalu jauh dari haluan naskah.

Akhirnya kami mulai latihan. Latihan pertama adalah latihan vokal, disamping membaca naskah.

Mulut saya harus terbuka, besar, lebar. Muka saya acak-acak pakai tangan, biar “lentur”.

Dialog. Kata per kata harus jelas, tidak nyerempet seperti pedagang asongan yangrokoyangrokoyangakuakacangkuaci. Harus ada spasi. Tempo.

Ribet.

Judul pementasan kami “Noda Perdamaian”, bercerita tentang percecokan pemuda gampong. Pementasan ini disutradarai oleh Azmi Labohaji.

Saya memerankan Joko, pemuda asal Jawa.

Setelah kurang lebih dua minggu latihan. Saya PD akan tampil maksimal.

Malam pementasan, saya, Nazar, Hamdani, Toke, Muntazar, dan beberapa pemuda lainnya bermalam di pentas, di Gedung AAC Dayan Dawood. Di Aula utama yang mampu menampung 700an orang.

Paginya, hari H. Kami mulai Gladi. Lengkap dengan kostum. Lancar. Sesuai rencana.

Meranjak petang, kami didandani. Pementasan berlangsung pukul 20.00 WIB Tanggal 1 Juli 2012.

Pukul 19.00 penonton mulai muncul, melakukan registrasi, memenuhi kursi-kursi.

Selesai dandan, foto bareng. Bareng penyelenggara Theart2heart Project sekaligus perwakilan dari Earlham College, Rossa, Lailul Ikram. Bareng rektor, Darni M Daud. Seluruh tim, penata panggung, penata musik, penata lampu.

Dari balik panggung saya mengintip penonton. Ramai. Ratusan. Seketika saya demam. Demam panggung.

Nazar menenangkan.

Saya adalah aktor pertama yang muncul. Sedang bermain seruling di bawah rimbun bambu.

Apakah saya bisa? Apakah dialog akan benar saya ucapkan? Apakah nama pemeran lain benar saya sematkan? Tidak tertukar?

Bismillah.

Sin pertama. Lampu diredupkan. Ditengah gelap, saya menyelinap masuk panggung. Duduk di kursi, di bawah pohon bambu. Saat itu saya Joko. Pemuda dengan segudang penyakit hati.

Syukur, sin pertama lancar. Lampu kembali redup, saya melompat ke belakang panggung.

Aktor lain masuk bergantian, mengisi sin kedua.

Saya mengintip penonton. Mereka serius, menikmati. Sesekali muncul gelak tawa.

Lalu sin ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya.

Pementasan berlangsung selama kurang lebih 70 menit.

Selesai. Kami menyelesaikan pementasan dengan baik sekali. Penonton bersorak gembira, menepuk tangan, mengambil gambar.

Meski ini pengalaman pertama, namun saya dapat menaklukkannya. Memuaskan penonton. Semampu saya.

Saat itulah saya menyadari, bahwa sebenarnya tidak ada batasan kemampuan, yang hanya adalah kemauan. Jika anda mau meski merasa tidak mampu, percayalah kemampuan itu akan datang seiring dengan kemauan anda.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *