Gagal Angkor Wat, Bromo pun Jadi

Akhir Desember 2017 lalu saya menyelesaikan pembayaran penerbangan Kuala Lumpur – Siem Reap (Kamboja), terbang pada Maret 2018. Setelah nanti puas melanglang di Angkor Wat dan kota kuno Angkor Thom, saya lanjutkan melancong ke Ho Chi Minh City (Vietnam), baru setelahnya bertolak ke Kuala Lumpur dan pulang ke Banda Aceh.

Semua sudah matang, tiket pesawat dan penginapan sudah terbeli.

Sebelumnya, saya kedatang teman asal Makassar, ia baru saja keliling Asia Tenggara plus China, satu bulan dengan budjet kurleb 5 juta. Ceritanya panjang, seru, banyak hal yang tak terduga.

“Saya lebih merasa aman berjalan seorang diri di pasar-pasar penuh sesak di pedalaman Myanmar daripada di Indonesia,” ceritanya.

Saya setengah setuju.

Ia menyarankan banyak hal, termasuk teman perjalanan, kalau bisa pasangan.

Sial. Pasangan?

Pergi sendiri pun tak apa, seperti dia, toh nanti dalam perjalanan juga akan menemui teman baru, pasti lebih seru.

Waktu untuk berangkat semakin dekat, pun pekerjaan yang datang semakin banyak, penuh sesak.

Saat itu saya bekerja di salah satu Lembaga Non Pemerintahan, Center for Community Development and Education, projek penelitian kami bersama Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada masuk fase akhir.

Saya khawatir tidak bisa berangkat.

Benar saja, tidak bisa.

Di waktu yang bersamaan, menyelesaikan laporan penelitian plus harus merancang user interface dan user experience aplikasi Pekan Kebudayaan Aceh yang ke tujuh, saya gagal berangkat.

Notifikasi muncul di layar hp, google mengingatkan saya, bahwa besok hari H, Banda Aceh-Kuala Lumpur-Siem Reap.

Barangkali memang bukan rezeki saya.

Tiket dan kupon penginapan hangus begitu saja.

Kinerja saya saat itu sempat loyo. Bang Makmur, rekan kerja, coba menyemangati, “Kalau tak sempat ke luar (negeri -pen), dalam saja, naik gunung, Rinjani kek, Bromo, lepas suntuk aja” katanya.

Kalau dipikir-pikir, memang sudah lama saya tidak naik gunung. Terakhir waktu kuliah. Sudah lama betul. Tapi, rasanya tak sanggup naik gunung, akan menguras banyak tenaga dan waktu. Rinjani, minimal 5 hari naik turun, Semeru apalagi.

Sebab, pekerjaan masih banyak, tubuh harus tetap fit disamping memang harus liburan.

Kalau Bromo masih memungkinkan. Sebab tak perlu mendaki pakai “kaki”, ada Jeep yang berkapasitas 6 orang siap mengantar ke puncak. Ingin ke mulut kawah pun bisa menunggangi kuda.

Di sisi lain, Bromo bisa diakses dari Kota Malang, pun disebelahnya ada Kota Batu, kota wisata, ada paralayang pula. Sepertinya memang Bromo jodoh saya.

Sekali lagi saya melakukan “riset” cari info, jalur yang bisa dilalui, bayangan budjet yang dibutuhkan, dan paling penting, kapan.

Saya harus “merekayasa” waktu, agar mendapatkan tujuh hari bebas kerja. Ada dua pekerjaan mendesak, penelitian dan desain UI/UX aplikasi PKA 7.

Laporan rasanya bisa saya cicil sambil liburan. Tapi desain, tidak mungkin, akan banyak sekali revisi untuk mendapatkan desain yang maksimal.

Di sisi lain, sudah kebelet ingin liburan.

Sebab tahun sebelumnya 2017, tidak sempat liburan, full bekerja, bagai quda. Pun pada tahun yang sama saya menyelesaikan pendidikan sarjana, ia wisuda, tujuh tahun, penutup angkatan 2010.

Penanjakan Pertama Bromo Tengger Semeru

Sesak. Penat. Butuh liburan.

Sekarang sudah saatnya, lepas suntuk. Sudah saatnya memanjakan otak.

Saya tentukan tanggalnya, pun untuk desain saya hentikan sementara.

Jalur perjalanan sudah saya tentukan, Banda Aceh-Bandung, dari Bandung naik kereta sampai ke Kota Malang.

Di Bandung, saya ingin menjumpai beberapa teman, seangkatan, yang saat itu sedang menempuh pendidikan master di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Tanggal 21 Maret 2018, pukul 13.05 WIB saya mendarat di Bandara Internasional Husein Sastranegara, Bandung.

Bumi Pasundan, kini saya kembali lagi.

Bandung memang kota penuh kenangan, ia menawarkan banyak hal. Paling penting, kenyamanan.

Sejuk. Bersih. Orang-orangnya ramah.

Sambil menggendong ransel, saya menghubungi Zaki. Mahasiswa akhir master hukum internasional Universitas Padjadjaran. Otaknya canggih, dulu ketika di Banda Aceh, selain menempuh pendidikan Sarjana Hukum di Universitas Syiah Kuala, ia juga aktif sebagai mahasiswa TEN/PBI UIN Ar Raniry.

Empat tahun pertama selesai TEN, setahun setelahnya mengantongi gelar S.H. Setahun setelahnya lulus pendidikan master di Unpad.

Banyak sekali teman saya yang canggih otaknya, hanya saya yang lontong sayur.

Saya raih ponsel, menelpon Zaki. Ternyata ia sudah menunggu di pintu kedatangan Bandara Internasional Husein Sastranegara.

Saat bertemu, ia langsung sodorkan brosur program Master di Unpad dan UI, “Ini ku kasih sekarang jangan nanti lupa, gak kapok kuliah kan?”

Alahmak.

Ia cerita panjang lebar, pun termasuk tentang kesannya bertemu Prof Bagir Manan secara langsung, bertukar pikiran, salah satu idola di kalangan mahasiswa ilmu hukum. Pula banyak tokoh-tokoh ilmu hukum lain yang ia ceritakan sampai petang. Saya berhasil dibuat iri.

Malam itu saya melanglang di Kota Bandung, Kota Kembang.

Indomie rebus plus telur yang kami habiskan di Warunk Upnormal menutup sesi jalan-jalan malam itu. Separuh suntuk saya sudah hilang. Berkeliling di kota sudah, kini saatnya ke alam lepas.

Sekitar pukul 8 malam, saya bertolak ke Stasiun Kiaracondong, Kereta Api Mutiara Selatan 112 siap mengantar saya ke Stasiun Kota Malang.

Salah satu view point Kota Batu

Saya sudah memesan kursi dekat jendela.

Sambil menenteng nasi padang, saya masuk gerbong, mencari kursi.

Malam ini agak sepi, penumpang tidak penuh. Barangkali akan ramai di stasiun-stasiun berikutnya.

Menumpangi Mutiara Selatan 112 kelas bisnis sangat nyaman. Cocok untuk perjalanan panjang. Seperti saya saat ini, 14 jam.

Lapar. Saatnya santap rendang.

Sambil mengunyah rendang, penumpang di sebelah tanya asal saya, “Asli Bandung, Kang?”

Maunya begitu.

“Bukan, saya dari Aceh, disini baru dua malam.”

Obrolan pun semakin panjang, ia penasaran tentang beberapa hal, diantaranya tentang tsunami, DI TII, GAM, dan Cut Tari.

Esoknya, pukul 10 Pagi, kereta api berhenti, di Stasiun Malang.

Untuk sampai di Stasiun Malang, saya melalui rute bawah, via Yogyakarta. Melewati 16 Stasiun.

Tiba di Stasiun Malang pukul 10 pagi. Saya melompat turun dari kereta.

Di luar, mas-mas penyewa motor sudah menunggu kedatangan saya. Sambil menyulurkan sebotol air mineral, ia memperkenalkan namanya.

Saya akan menyewa sepeda motornya selama 3 hari.

Sebelumnya, saat masih di Aceh, saya sudah buat itinerary. Kota Malang dan Kota Batu.

Dari Malang ke Batu hanya terpaut kurang lebih 60 menit perjalanan darat.

Saya menyewa penginapan di Kota Batu, kenapa? Karena ada banyak sekali spot wisata di Kota Batu. Di antaranya saya akan mengunjungi, Omah Kayu, Rumah Hobbit, Paralayang, dan wisata kuliner sate kelinci.

Setelah mengunjungi Kampung Wisata Jodipan dan tentu saja foto-foto, saya akhirnya bertolak ke Kota Batu.

Kota Batu, sejuk, seperti Takengon di Kab Aceh Tengah.

Kita dapat dengan mudah menemui warung-warung yang menyajikan segala macam sate, termasuk sate kelinci.

Saya sudah kadung penasaran. Seperti apa rasanya, sate kelinci itu.

Selepas Maghrib, bermodalkan Google Maps, saya menuju Restoran Sate Kelinci Batu di Jalan Patimura Kota Batu.

Saya langsung pesan sate kelinci. Dan sate ayam kalkun. Penasaran.

Gigitan pertama, sate kelinci. Gurih, lembut, manis.

Lalu ayam kalkun. Gurih, namun sedikit lebih kasar dan kenyal.

Puas menyantap makanan khas Kota Batu, saya ke Alun-alun kota. Duduk di warung, memesan rebusan jahe. Duh malam yang syahdu.

Esok, pagi-pagi sekali, saya sudah siap menjelajah alamnya Kota Batu. Saya ingin sekali mencoba paralayang, terbang seperti burung, dari atas bukit yang curam.

Namun malang tak bisa ditolak. Hanya melihat mereka terbang diterpa angin saja sudah membuat kaki saya bergetar. Tinggi betul, angin kencang betul. Bagaimana kalau nanti saya tersangkut di pohon cemara? atau angin menabrakan kami ke tebing, aih, lain kali saja.

Saya akhirnya hanya berswafoto dan merekam kegiatan paralayang Kota Batu. Saya malu dengan anak-anak kecil yang berani terbang, sedang saya yang sudah berjanggut bernyali kecil.

Lalu ke kebun strawberry, kebun apel, rumah hobbit, omah kayu. dan beberapa lokasi wisata Kota Batu lainnya. Seru betul, melang-lang di kota yang sejuk dan bersih.

Untuk sementara saya bisa melupakan kepenatan bekerja. Meski hanya sebentar, toh kalau lama tak ada duit juga.

Makan siang.

Setelahnya apa lagi? Museum?

Museum angkut. Oke. Masuk. Foto-foto.

Masih ada waktu free sampai sore. Sebab malam nanti, paling telat ba’da Isya, saya harus sudah sampai di Kota Malang, ke sekretariat Travel Lepas Suntuk, yang akan bertolak ke Gunung Bromo. Lokasi syuting banyak iklan itu.

Saya sudah tidak sabar. “Acara” utamanya sebentar lagi.

Dibalut jeket tebal, saya mulai melengkapi keperluan selama di Bromo. Kupluk, sarung tangan, dan syal wajib dikenakan.

Sebab begini. Untuk menikmati Gunung Bromo, pendaki harus sudah bertolak (dari Kota Malang- pen) pukul 10 malam. Perjalanan ke Penanjakan Pertama, ditempuh dalam waktu 4-5 jam, menggunakan jeep.

Mantap, saya dapat Jeep warna putih susu. Favorit saya, akan sangat bagus difoto.

Enam orang tamu muat dalam satu Jeep. Saya berdua bersama teman, yang sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas Surabaya.

“Ini Indomart terakhir, yang mw beli jajan silahkan, kalau nasi sudah saya bawakan,” kata Pak Supir.

Seketika mobil disesaki jajanan. Kami yang baru saja kenal langsung akrab. Bercerita panjang lebar, tentu saya yang paling jauh datang kesini, dari Aceh. Mereka menanyakan oleh-oleh. Mereka minta ganja dan kopi Aceh pula seloroh menanyakan alamat rumah Cut Tari.

Hanya ada gelak tawa, di pagi buta yang dingin.

Saran dari teman saya yang mengatakan ajak pasangan memang benar adanya. Akan romantis betul jika saya bawa pasangan kemari (punya saja tidak -pen).

Kami berenam, 3 pasang memang. Saya bersama teman perempuan. Tapi bukan pacar. 2 pasangan lagi, pacaran. Saling “menghangatkan”. Tidur di bahu pacar. Saya? Tak ada harapan. Sudah ada teman ngobrol saja syukur, alhamdulillah. Nanti kalau sudah punya pasangan, halal, pasti saya ajak kesini. Pasti.

Kami tiba di penanjakan pertama pukul 3 dini hari.

Di atas, sudah berjejer penjual jagung bakar, wejangan jahe, kopi dan perlengkapan pendakian.

Semakin mendekati sunrise, semakin ramai.

Pengunjung menyemut di penanjakan pertama, spot paling tepat menyambut sunrise.

Saat itu suhu udara 5 derajat celcius. Dingin betul. Menusuk tulang. Rasanya jeket saja yang sudah lapis tak ada gunananya. Namun sungguh, pemandangan yang sangat luar biasa indahnya.

Tampak matahari mengintip dari ufuk, pelan-pelan sekali keluar dari balik gunung. Seketika awan memenuhi pasir berbisik, tepat di bawah kaki kami.

Saya takjub, hampir mengeluarkan air mata. Indah betul lukisan yang Maha Indah.

Masing-masing pengunjung mengabadikan momen ini. Saya masih takjub. Masih mematung. Teman saya, mengeluarkan kamera, memotret saya yang tanpa ekspresi.

“Rugi jauh datang kemari kalau tidak foto, kalau saya deket, Surabaya” katanya.

Saya bengong saja.

Puas bengong, kami kembali ke Jeep. Sarapan. Menyeruput kopi.

Sarapan terbaik selama ini.

Lalu kami turun dari penanjakan, menggunakan Jeep, menuju Gunung Bromo, kawah Gunung Bromo.

Sampai di pasir berbisik, beberapa penunggang kuda mengekori mobil kami. Niatnya akan menawarkan jasa naik kuda sampai ke tangga mulut kawah.

Namun saya tetap memilih jalan kaki saja. Sudah separuh jalan naik Jeep, ke mulut kawah naik kuda pula. Manja betul.

Untuk sampai ke mulut kawah dari parkiran Jeep. Butuh waktu sekitar 45 menit. Menaiki ratusan anak tangga. Tanah berpasir tandus menjadi medannya.

Saya semangat betul. Entah darimana datang tenaga, padahal belum tidur semalaman.

Foto. Mendaki. Foto. Terus begitu sampai tiba di kawah gunung.

Sekali lagi saya takjub, gunung api aktif ini seperti bernapas. Bau belerang menyeruak. Asap putih menyesaki mulut kawah. Saya tepat di atasnya. Hanya dibatasi pagar setinggi pinggang.

Beberapa pengunjung mengitari mulut kawah sebisanya. Saya tak berani. Tak berpagar, kalau terpeleset dan jatuh, sembilan puluh sembilan persen meninggal.

Kami berhenti sejenak di mulut kawah. Minum. Menikmati suasana. Saya merogoh ponsel, menelpon adik yang saat itu sedang menempuh pendidikan di Padang. Video call.

Ia juga ikut takjub. Suatu saat, ia akan kesini juga. Benar saja. Saat saya menulis ini, ia sedang menempuh pendidikan profesi apoteker di Bandung. InsyaAllah akan selesai Maret 2020. Dan rencananya ke Bromo hampir matang, tinggal menunggu libur.

Puas menghirup belerang, kami turun. Dari mulut kawah tampak jelas pasir berbisik, lautan pasir berwarna gelap, lautan pasir itu berpagar bukit yang ditumbuhi ilalang. Bukit teletabis.

Banyak sekali pasangan yang akan menikah menjadikan lokasi ini sebagai tempat photoshot.

(Pfft… sudah 1800 kata)

Oke, singkat cerita. Liburan Bandung-Malang-Surabaya selesai.

Saat kembali ke Kota Malang, dari Bromo, saya tertidur pulas di Jeep. Kami berenam tiba di Malang pukul 6 sore. Ditutup dengan makan bakso di pinggir rel kereta api, persis di pinggir, deket banget!

Esok harinya saya kembali ke Banda Aceh via Surabaya. Terbang dari Bandara Internasional Juanda tepat pukul 9.40 pagi.

Pekerjaan sudah menunggu. Banyak orang yang harus ditemui. Tapi tentu saja, dengan mood yang lebih baik.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *