Pulau, Hantu, William Torrent

TAUFIK Dtk created group “Wiliam Toren Squad”, duh, mereka serius dengan rencana ke pulau “berhantu”. Sebuah pulau yang kabarnya terdapat gua penuh dengan tengkorak manusia dan berseliweran sosok noni-noni Belanda di benteng-benteng kuno masa penjajahan Belanda.

Rencana kami matangkan di warung kopi.

“Berapa malam rencana kita menetap?”

“Dua? Tiga?”

“Dua cukup”

“Bawang putih perlu gak?”

Kami ber-enam, menunggangi tiga motor, berboncengan.

Hari H, setelah belanja keperluan selama di pulau, kami bertolak ke Pelabuhan Lampulo.

Saya menggendong ransel dan golok. Rahmat Taufik, kepala tim menggendong ransel, berisi separuh kebutuhan kami dan panci.

Tenda sudah kami siapkan, kapasitas empat orang, dijinjing Maulidin.

Kami tiba di pelabuhan. Kapal-kapal nelayan menyemut di dermaga, buruh kasar berbadan gelap sibuk memindah masukan barang ke kapal. Riuh.

Kami menepi, menanyakan kapal yang akan bertolak ke Pulo Aceh. Pulau yang kami tuju. Pulau berhantu itu.

KM Sulthan Bahari, mengangkut penumpang dari Lampuyang menuju Lampulo. Foto oleh Alfath Asmunda

Syukur ada satu kapal yang masih bersandar, Kapal Motor (KM) Rahmat Rezeki. Kami akan menumpang kapal itu, yang penuh dengan galon-galon air, beras, semen, dan belasan jerigen minyak. Bensin. Solar.

Awak kapal mulai menggendong motor kami, disandarkan di sisi kanan kapal. Mengikatnya dengan tali. Jujur saja saya ragu dengan tali sebesar sedotan itu. Apakah kuat memegang sepeda motor kami?

Di buritan kapal, ibu-ibu dan anak-anaknya sudah menunggu, diantaranya berbaring, seperti bosan menunggu nahkoda kapal yang tak kunjung menyalakan mesin.

“Jangan duduk di situ bang, panas nanti, kena air laut” wanti-wanti penumpang lain.

Kami lalu pindah, tepat di buritan, disela-sela barang milik penumpang lain.

Tak lama, sekitar 30 menit, nahkoda menyalakan mesin. Sambil bersenggolan dengan kapal-kapal lain, kapal dibelokkan ke kanan, menghadap mulut sungai, menuju laut lepas.

Bismillah.

Dari satu lepas pandang di Pulau Breuh. Foto oleh Alfath Asmunda

Alfath merogoh kamera dalam ransel. Mulai mengabadikan momen.

Saat itu angin bertiup relatif kencang, KM Rahmat Rezeki merangkak ayal. Semakin parah setelah separuh jalan kami lalui. Ombak setinggi 3-4 meter tak henti menghantam lambung kapal.

Duh ini laut dalam, air laut biru gelap.

Seorang penumpang muntah, tepat di kaki saya. Ia meminta maaf. Sedang darurat. Ia tidak mungkin bersandar di pagar kapal dan muntah ke laut. Terlalu bahaya. Hantaman ombak bisa membuatnya terlempar keluar.

Seorang bapak, yang tak henti menghisap Dji Sam Soe, tampak santai sambil melempar pandang ke laut lepas.

“Angin timur. Ini belum seberapa”

Bapak itu sepertinya menyadari kalau saya mengamatinya sejak tadi.

Kegiatan bongkar muat di dermaga Lampuyang. Foto oleh Alfath Asmunda.

“Oh saya pikir sudah paling berat, Pak”

Ia melempar senyum, sebelum melempar puntung rokok ke laut, entah yang ke berapa kalinya.

Saya mengorek informasi tempat wisata yang bisa dikunjungi, yang tidak “angker”.

“….. Kecuali gua itu, saya sarankan jangan kesana…”

Yang punya kampung melarang kami mengunjungi gua misterius itu, yang di mulut sampai ke dalam gua banyak ditemukan tengkorak-tengkorak, diduga manusia.

Saya perhatikan, ia melirik.

“Angin Timur,”

“Ohh, sedang masanya ya, Pak?”

“Iya. Ini masih lumayan, tidak terlalu tinggi (ombaknya -pen)”

Ia lalu bercerita, saya semakin menggali informasi. Bapak tersebut penduduk asli Pulo Aceh. Anak dan istrinya juga asli Pulo Aceh.

Biasanya mereka ke luar pulau untuk mendapatkan keperluan yang tidak tersedia di Pulo.

Sampai di dermaga Lampuyang, salah satu dermaga di Pulo. KM Rahmat Rezeki buru-buru mengikat lambung kapal ke sandaran, angin kencang memaksa nahkoda kapal berhati-hati, sebab amuk ombak membuat kapal sulit dikendalikan.

Barang dan sepeda motor kami digendong keluar setelah kapal berhasil dijinakkan.

“Kita hantam kopi dulu,” tawar Taufik.

Tak ada yang menalak, kami menerima tawaran Taufik kontan.

Di mulut dermaga, yang sisi kiri dan kanannya bukit, ada sebuah warung kopi sederhana. Meski sedang angin kencang, sajian pemandangan alam yang begitu indah tak kurang walau setitik.

Hari itu, kami niat bermalam di bibir pantai dekat dengan Mercusuar William Torrent. Mercusuar itu selesai dibangun Kolonial Belanda pada tahun 1875. Konon, Mercusuar jenis ini hanya ada tiga di dunia. Kembaran pertama ada di Kepuluan Karibia. Satunya lagi telah dijadikan museum di negerinya sendiri, Belanda.

Setelah kopi diseruput kandas, kami mulai menunggangi kuda besi.

Kami tiba di lokasi sekitar pukul 17.30 WIB, detik-detik matahari akan tenggelam sementara.

Sebuah sore di pertengahan Februari di bawah menara suar William Torrent.

Eddy Mulyanto, pegawai negeri di Departemen Perhubungan Laut Distrik Navigasi II Sabang yang saat ini mengurusi William Torrent “menyambut” kami, tentu saja ia akan menyambut siapa saja yang mengunjungi ikonnya Pulo Aceh.

Laki-laki tambun asal Purworejo, Jawa Tengah itu sudah lebih 25 tahun bertugas di Aceh. Sekilas ia mirip sekali orang Aceh, sebab berbahasa Aceh lancar.

Bersama dengan Hendrik Sihotang dan dua warga lokal yang dikontrak, Eddy menjaga bangunan bersejarah dari jejak kolonialisme Belanda di Meulingge itu bak istri kedua.

Petang itu ia bercerita tentang William Torrent dan beberapa perilaku di luar nalar manusia yang kerap terjadi di lokasi Mercusuar itu.

“Pernah ada yang waktu tidur di ruang itu, tiba-tiba bangun sudah di luar,” cerita Eddy.

Ia bersama rekannya mengaku telah melihat sendiri sosok noni-noni Belanda bergaun putih, di lokasi ini. Namun, katanya, sudah tidak takut lagi, sebab sudah biasa.

Kami pun dipersilahkan untuk menginap disini, mendirikan tenda.

“Kalau mau tidur di atas mercusuar boleh juga, tapi akibatnya tanggung sendiri,” canda Eddy.

Matahari tenggelam diikuti oleh Taufik yang menyalakan kompor akan menyeduh kopi. Teman-teman yang lain merajang bawang, pula mencincang sayuran. Sedang saya asik menulis puisi.

Kami putuskan untuk makan malam di lokasi Mercusuar. Sejak awal memang sudah niat kami ingin makan bareng penjaga Mercusuar, selain untuk bersilaturahmi, pula untuk mengorek inforasi.

Bangunan tua bekas penjara di komplek suar William Torrent yang kini telah disulap jadi tempat penginapan. Foto oleh Alfath Asmunda

Maklum, diantara kami ada yang berprofesi sebagai wartawan nasional. Pun kami semua pernah terjun ke dunia jurnalistik beberapa waktu yang lalu.

Mercusuar ini disinggung dalam Onze Vestiging in Atjeh, sebuah buku tentang perang Aceh yang ditulis Mayor Jenderal G.F.W Borel. Katanya, William Torren mulai dibangun tahun 1874. Pemerintahan Hindia Belanda memiliki kepentingan untuk menjaga keselamatan pelayaran militer dan kapal dagang mereka di jalur strategis di sekitar pertemuan Selat Malaka dengan Samudera Hindia.

Ratusan orang diangkut dari Ambon untuk membangun menara suar ini. Juga ratusan warga lokal yang dipaksa ikut terlibat.

Kedalaman pondasi menara tersebut, konon sama dengan ketinggiannya, 85 meter. Sedangkan ketebalan bangunan mencapai satu meter. Saat gempa mengguncang Aceh pada 26 Desember 2004, bangunan itu bergeming. Ia tetap kokoh mengawal samudera.

Nama menara William Torren diambil dari nama Raja Luxemburg, Willem Alexander Paul Frederich Lodewijk. Seorang raja yang dikenal giat membangun perekonomian dan infrastruktur di daerah kekuasaan Hindia Belanda. Karena itu, namanya ditabalkan pada menara suar di Meulingge, Pulo Aceh.

Panjang cerita. Sialnya tak seorang noni pun kami jumpai. Sampai kami bertolak ke Pantai Ujong Peuneung yang berjarak 20 menit dari Mercusuar William Torrent pukul 11 Malam. Sebuah teluk yang menjadi Korps marinir Belanda di zaman penjajahan dulu berpangkalan.

Di sepanjang jalan menuju Ujong Peuneng, mencekam. Bangunan-bangunan tua masa Kolonial Belanda bercat putih menambah suasana angker. Tak ada penerangan lampu, jalan tanah seluas kurang lebih 1,5 meter penuh semak belukar.

Yang menantang, jalan tak landai, berbukit, berlumut, licin. Sesekali kami menunduk agar tak tersangkut akar gantung pohon besar.

Sesampainya di Ujong Peuneng, kompor kembali dihidupkan untuk merebus air menyeduh kopi. Yang lain menghidupkan api unggun sedang sebagian bersiap merebus indomie.

Ditemani gugus bintang kami bernyanyi mengikuti lagu yang diputar Ramadhan. Pfft, masih ada satu malam lagi yang akan kami habiskan, besok pagi biarlah biru air laut dengan pasir putih menjadi sarapan kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *